selain paket wisata membatik, di laweyan juga masih terdapat masjid laweyan yang berumur ratusan tahun |
Lawe dikenal sebagai serat-serat kapas halus yang merupakan bahan baku
pembuatan kain mori. Dahulu penduduk Desa Lawe, sekarang dikenal sebagai Laweyan,
hanya memasarkan kainnya. Kata Laweyan menunjukkan tempat dimana banyak benang
lawe di sana. Adalah Ki Ageng Henislah yang mengajarkan untuk menggunakan
canting. Penyebaran agama dibarengi dengan pendekatan budaya yang mendorong Ki
Ageng Henis yang juga keturunan Raja Brawijaya V dari Majapahit mengajarkan
membatik kepada santri-santri dan penduduk lokal, hingga akhirnya Laweyan
terbentuk menjadi kampung yang memproduksi batik.
Sejarah mencatat Laweyan adalah salah satu kawasan elit
tempat tinggal saudagar saudagar batik di zamannya dahulu. H Samanhoedi, salah satu tokoh batik Laweyan
di masa keemasannya pada awal era 1900-an.
Samanhoedilah yang mendirikan Sarekat Dagang Islam guna mempersatukan
pedagang batik pribumi agar bisa bersaing dengan pedagang batik
non-pribumi. Laweyan juga memegang
peranan penting dalam kehidupan politik
Kawasan seluas 24 hektar ini bisa ditemui beberapa kilometer
dari pusat kota Solo. Menyusuri Kampoeng
Laweyan seperti kembali ke masa di mana saudagar batik mencapai masa
kejayaan. Tembok-tembok bangunan yang
tinggi menjulang masih tersisa hingga kini, meski telah kusam dimakan usia,
melindungi rumah-rumah didalamnya yang kebanyakan bergaya arsitektur Indisch (Jawa-Eropa). Konon pada masa itu penghasilan seorang
saudagar batik bisa melebihi penghasilan bupati berlipat-lipat, tak heran rumah mereka berbentuk seperti
benteng. Selain itu, para juragan itu
juga ingin melegitimasi kekuasaan di wilayah masing-masing dengan tembok-tembok
yang menjulang. Dengan bentuk rumah yang
seperti benteng, terciptalah gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui kendaraan
roda dua saja. Peninggalan fisik itu
sekarang menjadi daya tarik tersendiri bagi Laweyan yang sekarang sudah
bertransformasi menjadi kampung untuk plesiran dengan nama Kampoeng Batik Laweyan
ini.
Forum Pengembangan Kampoeng
Batik Laweyan
salah seorang pembatik dengan meng gunkan cap di Laweyan |
Roda waktu terus berputar, Laweyan sempat mati suri karena
munculnya batik printing dengan harga yang lebih murah daripada batik tulis. Tak dipungkiri batik tulis Laweyan sempat
terancam keberadaannya karena tak lagi ada generasi muda yang meneruskan
ketrampilan melukis lilin di atas kain mori ini. Pembatik sekarang didominasi oleh orang-orang
dengan usia di atas 50 tahun. “Semoga
saja ada yang mau meneruskan batik tulis.
Jangan hanya lihat dari produk, proses, atau segala macam produksinya,
tapi juga nama baik Indonesia,” tutur Sumedi (58), salah satu pembatik tulis
yang masih bertahan hingga kini.
Sempat terpuruk karena masuknya indutri printing, kini Laweyan
mulai berbenah. Forum Pengembangan
Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) adalah organisasi pemberdayaan masyarakat yang
dibentuk pada 25 September 2004 seiring dengan dibentuknya Kampoeng Batik Laweyan.
“FPKBL menjadi salah satu elemen dari warga Laweyan yang bertujuan untuk mengembalikan
kejayaan Laweyan seperti dahulu. Pengembangkan pariwisata berbasis industri
batik dan nonbatik, seperti sejarah, bangunan, dan tradisi kawasan yang ingin
dicapai.” cerita Widhiarso, sekretaris FPKBL.
Kini Laweyan sudah kembali berdenyut dengan bau malam panas
yang bisa terhirup kala menyusuri gang-gang sempit di Laweyan. Diakui salah seorang pembatik, rumah–rumah di
Laweyan sekarang sudah mulai terbuka, tidak seperti jaman dahulu, tak sembarang
orang bisa masuk ke rumah. Kini akan
dijumpai puluhan rumah-rumah kuno yang sekarang berubah menjadi galeri
penjualan batik. Deretan papan nama setiap gerai batik pun langsung menyambut
pengunjung. Di tiap gang ada petunjuk
galeri-galeri batik. Rumah-rumah batik yang menawarkan berbagai produk batik,
mulai dari kain, pakaian, kaus, dan berbagai kerajinan dari batik ini dibuka
mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Tak
usah khawatir, harga yang ditawarkan dikisaran harga Rp50.000an hingga jutaan,
bisa menyesuaikan kemampuan kantong masing-masing, tentu saja dengan beragam
motif yang unik.
Laweyan menjadi salah satu desa wisata unggulan di Kota
Solo. “Di Laweyan, wisatanya lengkap. Wisata sejarah, ada beberapa situs
sejarah juga menanti dikunjungi, seperti Masjid Laweyan yang menjadi satu
kompleks dengan makam Kyai Ageng Henis dan Kyai Ageng Beluk, situs rumah dan
makam KH Samanhoedi, wisata budaya,
wisata belanja, dan sekarang sudah ada wisata kulinernya juga.” ungkap dra. Eny Tyasni, Kepala Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata, Kota Solo. Dengan mendapat status cagar budaya, Laweyan
bisa mempertahankan bentuk rumah-rumah kunonya sebagai aset tanpa harus takut diusik
oleh modernisasi yang berlebihan.

Kalau potensi wisata di Jawa Tengah adalah sebuah puzzle yang terdiri dari ribuan tempat
yang tersebar, maka Laweyan hanya satu potong kecil dari puzzle besar tersebut yang tergolong sudah sudah berumur. Terkadang melihat lebih dekat kepada satu
potongan puzzle tersebut akan
memberikan pelajaran lebih yang tak kalah ketika melihat puzzle tersebut secara keseluruhan.
Akan masih sangat banyak sekali ribuan tempat dengan potensi
masing-masing di penjuru Jawa Tengah, adalah sebuah tugas yang sangat
mengasikkan bagi putra-putri terbaik masing-masing daerah untuk menuliskan
potensi wisata di daerahnya.
Paket Wisata Kampoeng Batik Laweyan :
1.Paket Wisata
Edukasi

Paket Wisata Edukasi 2 : Paket ini meliputi kegiatan
Presentasi & Diskusi seputar Kampoeng Batik Laweyan ditinjau dari sudut
sejarah, industri batik, cagar budaya dan pengembangan kepariwisataannya yang
dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke berbagai obyek wisata seperti tempat
proses pembuatan batik (pabrik batik), tempat cagar budaya dan IPAL (Instalasi
Pengolahan Air Limbah). Durasi kegiatan sekitar 2 sd 3 jam.
2. Paket Kursus
Batik
Paket Kursus Batik Singkat : Peserta kursus belajar membuat
batik tulis dari proses nyorek (menggambar pola), nyanting dan mewarnai dengan
teknik colet. Proses akhir yaitu fiksasi dan nglorot dilakukan oleh Tim
Pengajar. Waktu sekitar 2 sd 3 jam. Hasil karya membatik dibawa pulang oleh
peserta kursus. Media membatik adalah kain katun ukuran 30 x 30 cm atau kaos
(tshirt).
Paket Kursus Batik Intensif : Kursus ini diperuntukkan bagi
mereka yang ingin menguasai teknik membuat batik tulis dan batik cap baik
tingkat pemula sampai tingkat mahir. Waktu pelatihan dari jam 8.30 sd 16.00
WIB. Pelaksanaan kursus bisa berlangsung sampai beberapa hari tergantung
banyaknya materi kursus. Peserta mendapatkan materi pelatihan baik teori dan
praktek dari Tim Pengajar yang sudah berpengalaman.
No comments:
Post a Comment